TIWORO on line

Media informasi masyarakat tiworo,serta masyarakat luas. Mari, cerdas bersama…

Kondisi karang di tiworo

Terumbu Karang di Tiworo Alami Kerusakan Parah

Oleh . Kompas thn 2003

Kerusakan terumbu karang dan hutan bakau di kawasan Selat Tiworo, Provinsi Sulawesi Tenggara, pemulihannya harus ditangani secara terpadu oleh semua instansi pemerintah, termasuk kepala daerah setempat serta berbagai kelompok masyarakat pemerhati masalah lingkungan. Tanpa adanya keterpaduan, program pemulihan itu tidak akan berhasil baik.

Menurut Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) Sulawesi Tenggara La Ode Ali Hanafi, Rabu (3/9), tingkat kerusakan ekosistem di Selat Tiworo sudah cukup parah. Hutan bakau (mangrove), misalnya, sudah sangat kritis.

Tingkat kerusakannya mencapai sekitar 80 persen. “Karena itu, masalah lingkungan tersebut harus ditangani secara terpadu,” ujarnya.

Secara administratif kawasan Selat Tiworo terletak di tiga kabupaten, yaitu Muna, Buton, dan Konawe Selatan. Kawasan berpenduduk sekitar 175.000 jiwa tersebut merupakan basis sumber daya kelautan dan perikanan yang selama ini dikelola secara tradisional, namun kemudian berdampak pada kerusakan lingkungan.

Bahan peledak

Akibat dalam kegiatan penangkapan ikan nelayan setempat selama ini menggunakan bahan peledak dan potasium, kondisi terumbu karang dan biota laut lainnya di kawasan itu kini sangat memprihatinkan.

“Terumbu karangnya hancur dan berbagai jenis ikan makin langka karena habitatnya musnah,” ungkap Ali Hanafi.

Ekosistem pantai di kawasan itu juga semakin kritis. Hamparan hutan bakau yang dulu menjadi sabuk hijau di sepanjang garis pantai, kini telah tercabik-cabik. Hutan tersebut ditebang habis sebagai sumber penghasilan tambahan nelayan setempat.

Ali Hanafi menyimpulkan, kerusakan ekosistem Selat Tiworo dipicu oleh kemiskinan penduduk setempat. Oleh karena itu, upaya pemulihan kerusakan harus dimulai dan difokuskan pada upaya pemberdayaan masyarakat nelayan.

Upaya pemberdayaan telah dirintis mulai tahun ini dengan cara menyediakan pinjaman modal tanpa bunga kepada kelompok nelayan. Kredit itu digunakan untuk membuat bagan terapung dan hasilnya bisa mengembalikan pinjaman dalam tempo dua bulan.

September 17, 2008 - Posted by | Uncategorized |

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.