Tradisi Kemiskinan
TRADISI KEMISKINAN
Oleh. Kadir Kudus
Jeritan kaum proletar tidak pernah berhenti, pemimpin tidak mampu berbuat banyak dan hanya jeritan anak kelaparan di seluruh sisi kehidupan bangsa ini.
Fenomena bangsa ini menyayat hati bila dilihat secara menyeluruh, pendidikan yang tidak terjangkau serta amburadul, pelayanan kesehatan yang mahal, kondisi alam yang tidak seimbang lagi, kelaparan dimana-mana, monopoli asing yang mencekik, pengangguran, anak terlantar, dan kebebasan yang senantisa dipancung ditiang pancungan demokrasi. Maraknya narkoba, kekerasan, dan pelacuran menjadi pemandangan hangat yang selalu dijumpai di media dan rana-rana nyata kehidupan social bangsa.
Politik yang menjadi menjadi keutuhan demokrasi dijadikan momentum hilangnya norma-norma bernegara, kepentingan umum menjadi suara angin lewat belaka. Kemapanan masyarakat banyak masih tabu untuk dibicarakan di negeri ini, integritas pemimpin bangsa dalam menakhodai republik ini masih terbatas dengan kata dan kepentingan lima tahunan. Masih banyak kepentingan umum yang dijadikan bola liar dalam kampanye pemilu maupun pilkada, bahkan tidak satupun bola menjadi program berjalan para pejabat yang telah terpilih. Masyarakat Indonesia hanyalah sampah bagi birokrasi yang mendahuhulukan kepentingan kantungnya. Seharusnya kibaran bendera penderitaan rakyat menjadi haluan kepentingan birokrasi namun itu hanya fatamorgana yang tidak pernah jelas penyelesaiaanya.
Kemiskinan dijadikan modal bagi para petinggi negeri ini untuk bersanding dengan kekayaan diri sendiri. Kemiskinan sanantiasa dijadikan tradisi para elit dalam meraup keuntungan yang sebasar-besarnya, kemiskinan ibarat nasi basi yang senantiasa di biarkan basi sehingga para pejabat senatiasa memiliki bahan untuk dijadikan pekerjaan tentunya lewat proyek-proyek perbaikan hidup kaum miskin. Kemiskinan tidak pernah akan berhenti atau dapat dihilangkan dinegeri ini, karena ia adalah manifesto kemakmuran orang-orang besar, tanpa orang miskin mereka tidak pernah akan meraup keuntungan.

Belum ada komentar.
Tinggalkan Balasan
-
Arsip
- September 2008 (6)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS